Tetes Damai Susu Ibu
Sugit Zulianto, Palu
lahir tak kuminta, tapi kuada
karena ayah mencinta ibu
kandungan Pertiwi berdarah
saksi jalanku menapak negri
merdekaku di palang pintu
masuk tamu tanda setuju
Ayah Ibu berikan restu
jiwa ragaku bertalu maju
diberikan puting susu
kuhisap lahap ujung puting
Ibu relakan buka telanjang
lihatku lincah riang lucu
dari lisanmu tak terkatakan
pesan tuk menistakan pada
lawan, apalagi kawan seia
katanya, abaikan musuh-musuhan
merah darahku pun putih
jernih tetes susu tuk maju
tabuh gendang bertalu-talu
ragam ragamu satu cintaku
darah merah menggenang
kutak kira hanyut berenang
tutur Ayah Ibu satu:
damaikan lisanmu.
Palu, 23 Maret 2017