Catatan Kecil Ali Rizkatillah Audah “Mengapa Syahadat Kita Ada Dua”

*Mengapa Syahadat kita ada dua?*

Ali Rizkatillah Audah (ara), Yogyakarta

Kita sudah faham bahwa untuk memeluk Islam, pertama kali wajib ucap dua kalimah syahadah: kalimah pertama, pengakuan keesaan Tuhan (syahadah tauhid), dan kalimah kedua, pengakuan kerasulan Nabi saw (syahadah rasul). Sahkah keislaman seseorang jika hanya mengakui keesaan Tuhan, tapi menolak kerasulan Nabi saw? Jawabannya sangat tegas: tidak sah! Pintu pertama masuk Islam adalah pengakuan dua kesaksian ini secara bersama sama, sehingga disebut sbg syahadatain; para waliyyullah mengabadikannya dalam bentuk “sekaten” pd saat perayaan Maulid Nabi saw.

Tidak mungkin seorang muslim mencintai Tuhan namun menolak atau membenci Rasulullah saw. Bahkan, sekalipun mrk bersyahadat rasul kepada Nabi Muhammad saw, mereka juga wajib menerima dan mencintai kerasulan semua nabi sebelum Nabi Muhammad saw.

Apa hikmahnya?

Orang yg hanya menerima kebesaran dan keesaan Tuhan namun menolak dan merendahkan utusanNya, berada dalam posisi terlaknat. Mahluk pertama yg melakukan ini adalah Iblis, yg hanya bersedia sujud pada Allah, namun menolak sujud pada Nabi Adam as.

Kebesaran dan kekuasaan Allah swt tersebar di seluruh muka bumi dan alam semesta dalam bentuk “kolaborasi”, yg melibatkan begitu banyak syariat lantaran, shg Tuhan kerap menggunakan kata “Kami” (nahnu), sebuah penegasan bhw Tuhan dg syariat lantarannya itu satu, tidak terpisah.

Krn itu, ketika org berhaji, orang tidak hanya datang ke Rumah Allah di Masjidil Haram, Makkah,,,tetapu juga berziarah ke Rumah Rasul saw di Masjid Nabawi, Madinah.

Tanpa memegang Sunnah Rasul saw, keislaman manusia akan membinasakan mahluk bahkan dirinya sendiri. Dia akan pongah, merasa punya kedudukan istimewa, dan merasa tdk butuh seorang penasehat selain Allah. Orang orang ini bersedia penggal kepala siapapun termasuk org Islam sendiri,krn merasa membawa panji kebenaran Tuhan yg absolut.

Mereka yg berIslam dg berpegang pada Sunnah Nabi saw akan menjiwai betapa mulianya ajaran Islam yg rendah hati, memuliakan guru,orang yg lbh tua, orang miskin, anak yatim, memuliakan kaum perempuan, menyayangi anak dan istri, memuliakan tamu dan tetangga karena semua itu diajarkan dan dicontohkan Nabi saw.

(1)

Tinggalkan komentar