Puisi “Secangkir Minuman itu” Parmadi-Jambi

SECANGKIR MINUMAN ITUParmadi, Kota Baru, Jambi

hari tak begitu terik
namun kerongkongan ini terasa terjepit dahagaku melunglaikan rasaku
aku butuh seteguk air yang menggenangi kering ini.
rindu jumpa kasih ku tak terbendung selaksa air bah membuncah memecah karang, aku harus cepat pulang

minuman ini adalah cinta yang mencuat dari hatimu, demikian hari ini
sesaat aku tiba di gerbang hatimu seraya mengucap salam, selsysng lalu minuman yang spesial itu telah tertegun di bilangan mataku.

bismillah, ditempelkan bibir cangkir itu di bibirku, kurasakan ini tak seperti biasanya, takkan kubagikan minuman ini secangkur berdua seperti selama ini kita jalani berdua.Di ujung lirikku, ku lihat kau tertegun menunggu separuh minumanku yang menjadi bagian dirimu.

hampir habis kutemui minumanku, sekolah lalu kudengar kau meminta,
kenapa bagianmu tak juga sampai padamu, tidak seperti hari lalu.
Mungkin saja aku salah, namun justru aku tak ingin kau malu,
lalu secepat tanpa disadari
minuman itu di tangani
terdengar ucap penyesalan, “Suamiku, maafkan aku, tak selayaknya ini untukmu, tapi aku tagi terburu meraciknya, agar engkau tak lama menunggu, Maafkan aku,”
Istriku, manis ataupun asin minuman ini, bagi sama, karena bagiku bukan minuman itu yang lnginku damba,
kesetiaan kita adalah jalani manisnya dan juga asinnya jejak bersama. Minum asin ini adalah jejak yang tak pernah kulupa,
sebagai cermin bahwa kita pernah terpuruk bersama. Itu sebabnya tak kuberkan sisa minuman ini padamu, agar tak lagi kau rasakan asinnya saat kita sengsara, biar aku saja,”

Kota baru, Jambi, 25102018

Tinggalkan komentar