Muslimah-IAIN Palangka

Puisi “Mungkin Benar” Dee Palembang

Mungkin Benar..


Ada sepotong rindu yang nakal
terhimpit antara cinta dan nafsu

Mungkin juga benar …


Kemarin adalah elegi pilu
Sarat kesalahan

Akan seperti apa
bila hati memvoting tegas
Menancap kokoh,
batas mimpi dan nyata

Ternyata,
kita hanya sebatas memoar penuh dosa

Tak mungkin kugapai angin
meski sejukkan sukma dan raga
Lalu dimana harus kutumpah salah ini?

Harus membiar kenang
Hanyut dalam kubangan sesal
tak berkesudahan

Salah !!!
Akankah tersia sujud yang tersulam ?

Kita adalah kesalahan
Kita adalah aib bagi kesetiaan
Kita adalah cinta terlarang ‘

Dee

#95

05032016 / 1148

Puisi “Sangkaan” Parmadi- Jambi

Puisi Parmadi
SANGKAAN

dari semula sudah ada awalnya
ketika rintik hujan melingkupi angkasa raya, bukankah tadi awan menggumul melukis mengubah warna?
itulah pertanda tentang cerita alam

daun beterbangan dan berakhir terkulai
di basahnya jalan,
di genangan tanah galian,
di bibir sungai dan halaman rumah
itu pertanda sebagai takdirnya.

kadang gemericik air
menciprat di rerumputan,
seekor semut bertahan di sela sela helai daun yang menghalangi tetes hujan menerpa tubuh mungilnya,
ia bahagia karena dirinya dapat sejenak melepas penat
dan menatap tetes air yang membiaskan wajahnya tentang sebuah cerita kehidupan

aku mendengar nyanyian hujan yang mengatur ritme di atap hunian
membelah kesunyian, saat raga raga
mensyukuri nikmat akan hujan
yang menghapus panasnya sebuah sangkaan.

Kotabaru Jambi, 29 Maret 2019

Puisi “Tentangmu”DLY-Yogyakarta

Tentangmu

Memandangmu menjejak beragam kesan…terbang ngelangut meninggalkn realitas
Indahmu diselimuti duri,kokoh dlm merengkuh prinsip
Matamu berbelati dan peluruh setiap hati lelaki yg menatapnya
Senyummu semburatkan syahwat para petualang cinta dan selir hati

Aku tenggelam dlm magic mushroom ragamu yg semampai dan berpikir gelap ttg nikmatnya tegukan anggur merahmu
Memelukmu hanya sebuah utopia yg terus menerus hadir menggunjing di mindaku
Rinduku didemarkasi ruang yg melampaui kenyataan yg ada.

Imajinasi nakal tentangmu kerap hadir saat kupandangi di lembaran2 sempadan foto profilmu..
Ooough..gila aku jika terus mencumbuimu dlm aras khayalku sj

Tentangmu yg tak pernah sirna dan akan terus melebur bersenggama dgn alam pikirku…
Entah sampai kapan penantian tak berujung ini..
Hanya dirimu yg mampu menjawabnya….

Tepian Kahayan Palangkaraya, 4 Maret 2019

Puisi “Kekasih Jiwa” Dee-Palembang

‘Terfikir tuk melintas hari
Dalam belantara hati yang fana
Terbersit tanya dari rimbunnya waktu
Dari ribuan malam yang kulalui
Adakah selarik kisah yang tersia
Jejak langkah pun terhenti
Napak tilas romansa itu
Terukir nyata
Indah dalam kenangan
Menatap senyum yang tersirat samar dalam tidurnya
Adakah aku di alam mimpinya
Sekejap tertegun
saat namaku terucap dalam igaunya
Oh ..
Ternyata diapun sama
Terimakasih
Untuk semua sayangmu
Kekasih jiwa’

Dee

06082015 / 2114

24

Puisi “Salam Tanah Berdebu” Zainul Walid-Sukorejo-Situbondo

Ustadz Zainul Walid

SALAM TANAH BERDEBU
(Surat rindu untuk Alumni Sukorejo)

Kalau tidak ada lagi bukti
bahwa kita orang shaleh
mudah-mudahan jejak kaki kita
yang bersentuhan dengan jejak-jejak kaki guru-guru kita
bisa jadi bukti
bahwa kita pun pencinta orang-orang shaleh

Betapa jauh kita telah melangkah
Meninggalkan kamar pondok, tempat kita bertahun-tahun berlatih ikhlas menderita dan sengsara
Meninggalkan surau dan masjid tua, yang kini tak ‘kan pernah lagi kaujumpa
Meninggalkan gerbang pesantren dengan langkah ragu dan linang air mata
Meninggalkan Rong Laok, dokar atau becak, yang tak mau peduli bagaimana hancurnya perasaan kita

Barisan pohon asam melambai, seperti mengucap selamat jalan, padahal diam-diam hati kita makin remuk,
“Inikah kepedihan, perpisahanku dengan pesantren dan guru-guru telah dimulai?
Adakah selamanya aku tak ‘kan kembali?
Adakah aku dan guru-guru tak ‘kan bertemu lagi?
Ataukah kelak kami masih akan bertemu
dalam rindu yang menggebu-gebu?
Oh…!”

Betapa jauh kita telah melangkah
Betapa lama kita telah berpisah
Mungkin wajah kita yang dulu bercahaya, kini gelap gulita
Mungkin mata kita yang dulu bening, kini keruh dan juling
Mungkin telinga kita yang dulu kerap mendengar azan dan pengajian, kini dijejali nyanyian jalanan dan kepalsuan
Mungkin mulut kita yang dulu semerbak Alquran, zikir, dan nazaman, kini busuk kebohongan dan kebencian
Mungkin tangan kita yang dulu mesra menggapit kitab kuning dan buku pelajaran, kini sibuk memburu dunia tanpa lagi peduli halal dan haram
Mungkin perut kita yang dulu berisi nasi gulungan dan terong bakar, kini hanya berisi kayu-kayu bakar dan ular
Mungkin kaki kita yang dulu hanya melangkah ke madrasah, surau, masjid, dan asta, kini melangkah ke mana-mana, terjerembab dalam genangan sampah, limbah, dan nanah

Tidak ada lagi bukti
bahwa kaki kita pernah suci
Tidak ada lagi bukti
bahwa mata, telinga, mulut, dan tangan kita pernah mengaji
semua berganti
semua jadi ngeri dan nyeri…

Maka, Alhamdulillah…
karena dalam kampung sunyi hati kita
masih tersisa rindu
terisak-isak dalam sepi
meronta-ronta ingin kembali

Maka, Alhamdulillah…
karena rindu itu menderas-deras
menghanyut kita
pulang kembali ke tanah pusaka
tanah yang melahirkan jiwa dan kesadaran kita
tanah yang debu-debunya
semoga menyucikan kembali jiwa kita

Kini, kita berdiri di Sukorejo ini
bagai santri baru atau orang asing
tiada lagi yang mengenal kita
Jelaslah, betapa lama kita tinggalkan
tanah pujaan

Kini, kita berdiri di Sukorejo ini
kita injakkan kaki
dam diam-diam jejak kaki kita
bersentuhan kembali
dengan jejak-jejak kaki guru-guru kita

Tidakkah kaurasakan
jejak-jejak kaki kita bersenyuman
karena ia bersentuhan
dengan yang dirindukan

Dengarlah…
angin dan daunan
mengucap salam


Zainul Walid, 21 Januari 2019

Puisi “Tentang Kata” Dee-Palembang

‘ Ini tak slalu tentang kata
Kau adalah duniaku,
Saat semua menggila

Kau lumat semua hasrat
Liar !!
Hingga semburat jingga
dikaki langit
Manggeram … !
Tuntaskan rindu …

Mengingatmu kan slalu
menguras air mata
Akupun tak tau ..
Mengapa ?? ‘

Dee

04102016 / 2254

#119

Puisi “Ruas Tentangmu yang Hilang”DLY-Yogyakarta

Ruas Tentangmu yg Hilang

Daun Lontar

Tak sengaja tersingkap foto lamamu
yg lusuh dimakan senja.
Melihatmu dalam bingkai itu, aku seperti berjarak,asing,kaku dan tak kukenal.

Melihatmu dlm
lipatan album itu, melemparkanku pd masa sulit dlm plot hidupku, aku tertatih dan berpeluh menapak zaman

Melihat setiap helai foto lamamu, hatiku gemuruh,geram dan nafasku berdetak sumbang.

Melihat setiap lembar fotomu, udara dalam kantong paruku mengepul dan serentak meletup diiringi vibrasi pita suaraku yg parau.
Melihatmu dalam setiap carikan foto itu, cairan magmaku meleleh menelelusup di setiap urat dan syarafku.

Melihat setiap episode fotomu, tersuluh penghianatan cinta, kemunafikan bersahutan timbul tenggelam.

Ya….aku memang manusia yg tak tegak ketika disapu badai
Dan akan lebur ketika dihantam cadas,
Akan terbang ketika disapu angin,
Akan musnah ketika dilalap api
Akan padam ketika disirami air
Dan akupun bisa kecewa dan akhirnya bisa menagis bahkan terkadang meratapi hal yg sulit aku enyahkan
karena aku adalah manusia

Bagiku, kamu adalah titik awal dan titik akhir dalam hidupku namun, ada rangkaian kisah yg putus hingga aku sulit menjalinnya menjadi utuh

Bagiku kamu adalah segalanya tapi aku tak tau segalanya cerita ttg hidupmu

Kamu tahu segalanya tentangku
Tapi aku tak mengerti sekian fragmen tentangmu karena ada ruas waktu yg menghilang dalam alur cerita hidupmu

Mengenalmu di setiap babnya jg dilema bagiku
Hidupku adalah dilema dan dilema itu sendiri adalah aku.

Aku berusaha berpikir, bhw inilah cara Allah mencintaiku dgn jalannya yg pasti tak kuketahui.

Karanglo, kaki gunung Merapi, Kaliurang Jogjakarta 24.30 11 Januari 2019

Puisi “Bias!!!” Dee-Palembang

Bias !!!

Karya Dee, Palembang
Lah pudarkah warna
Dalam semayam gundahku
Tatap mengabur berlinang
Air mata pilu

Garis singgung terputus
Salutkan luka hati
Gamang rasa bertutur
Ada apa denganmu hati ??
Semua tak lagi …
dan tak akan pernah sama
Aku marah !!
Aku benci !!
Aku menangis …
dalam kemarahan dan kebencian
Aku menangis …
Hanya menangis …
Tanpa tahu dimana harus bersandar … ‘

Dee

05102015 / 1957

#67

Puisi “Tanda Baca” Apri Medianingsih-Lampung

TANDA BACA

Puisi Apri Medianingsih

Aku melihat tanda zaman
Dengupnya menuliskan makna
Para pemabuk yang alpa di ruangnya

Aku saksikan tanda digemerlap bumi
Cahaya yang terlupa, biasnya sepi
Kilau bumi sumbat akal jadi buta aksara, meraba dalam terang

Tuhan, tak sekejap tidur
Kalimat – kalimat yang tertera di buku suci, kiasan waktu
Lelaki bercahaya mengajar sabda

Mari membaca tanda – tanda di rahim zaman,
lafalnya lahirkan pesan
Way Kanan, 2 Februari 2019